Pendakian Gunung Batukaru lewat Jatiluwih, Medannya extra ganask

MangJanaBlog || Pagi itu hari terlihat mendung dan ada ciri-ciri akan ada Hujan di sore haringnya. Sesuai yang direncanakan sebelumnya, kita terlebih dahulu ngumpul di Rumah Sawah ( Rumahnya Bapak Kayat Sudin, ketua dari Kripala) yang berlokasi di Gianyar – Bali. Jam Menunjukkan di angka 9:30 pagi, kita pun ber 23 orang berangkat menggunakan 4 buah mobil. Lokasi Pendakian yang kita pilih melalui Desa Jatiluwih Tabanan, Sebenarnya ada dua lagi jalur pendakian lainnya, yaitu dari Wangaya Gede dan Pujungan. Rencananya kita melalui Wangaya Gede, tapi beritanya lewat disana tidak diijinkan karena harus melalui Pura Batukau / Batukaru yang sangat disakralkan oleh umat hindu Bali.

Jam 12 siang kita sudah sampe di lokasi pendakian, yaitu di Desa Jatiluwih. Yang bikin kita terkejut dengan lokasi start pendakian di Jatiluwih ini adalah posisi awal kita mulai itu sangat jauh dibawah atau lebih tepatnya kita mulai dari kakinya gunung Batukaru (1900 meteran), sedangkan tinggi gunung ini 2276 meter. Berarti gunung ini memiliki karakteristik seperti gunung-gunung di luar Bali. Just info, gunung-gunung di Bali biasanya titik pertama kita mulai mendaki itu sudah ada di pinggangnya gunung, seperti Gunung Agung dan Gunung Batur.

Jam 12:30 siang pendakian kita mulai dari wantilan Pura Luhur Bhujangga Waisnawa, diawali dengan jalan beton yang tidak begitu menanjak. melewati hutan bambu, habis jalan beton kitapun disambut jalan setapak yang mulai menanjak seiring bertambahnya jarak pendakian. Beberapa dari kita sudah menunjukkan muka kecapekan, terutama keponakan saya “Arika” yang juga ikut dalam pendakian ini.

Dalam pendakian ini kita ada 23 orang, terbilang cukup banyak jika dibandingkan grup-grup pendakian pada umumnya, dan juga umur kita juga terbilang rentang satu sama yang lainnya itu terpaut jauh. Bahkan beberapa dari kita ada yang masih SMP dan ada yang sudah berumur 50 tahunan.

Tidak terasa kitapun sudah hiking 3 jam melewati hutan yang sangat lebat dan sangat lembab, saking lembabnya jalur pendakian ini, beberapa dari kita tergigit pacet atau lintah darat. Tidak hanya satu atau dua, beberapa dari kita ada yang digigit 7 pacet sekaligus. Gunung Batukaru ini sudah sangat terkenal akan keganasan alamnya, terutama dijalur pendakiannya banyak sekali mahluk-mahluk kecil yang haus darah ini yang sudah siap menyambut para pendaki yang pas lewat didepannya.

Hal yang kita khawatirkanpun terjadi, Hujan. Hal yang paling sangat dibenci oleh para pendaki, hujan membuat semua jadi kacau. Jarum jam menunjukkan pukul 4 sore, Hujan gerimis sudah mulai turun dan membuat suasana pendakian berubah. Yang awalnya pendakian terasa sante dan enjoy, berubah menjadi agak kawatir. Kawatir jika hujan membuat jalur pendakian menjadi licin, kawatir akan basah kuyup, kawatir akan serangan dingin (hipotermia) dan banyak lagi. Semakin lama hujan semakin menjadi-jadi, untungnya kita sudah mempersiapkan senjata penolak hujan…. hehehehe… maksudnya Jas hujan. Tapi tetap saja, baju yang sudah terlanjur basah oleh keringat, membuat badan ini terasa kedinginan. Kedinginan karena baju yang basah oleh keringat plus kedinginan karena hujan.

Medannya, ganaaaas

Ayah / Bapak Kayat Sudin (ketua Kripala) pun mengintruksikan ke semua dari kita untuk siap-siap berjalan Malam hari, persiapkan semua peralatan pendukung seperti senter. Diperkirakan sekitar jam 8an malam kita baru akan sampai di puncak.

Dijalur pendakian gunung-gunung di Bali tidaklah seperti jalur pendakian di Jawa ataupun di luar Bali yang ada pos-posnya, Di jalur pendakian gunung Batukaru ini tidaklah ada Pos-pos pemberhentian, bahkan tempat datar untuk mendirikan Camp pun tidak ada, kecuali di puncak. Maka dari itu kita putuskan untuk langsung ke puncak tanpa nge’camp di pertengahan walaupun hari sudah malam.

Medan tanjakan di gunung ini terbilang extreme, tanjakan didominasi akar-akar pohon yang melintang yang ditutupi dedaunan dan tanahnya sangatlah licin (tanah liat). Saat kita berada diatas ketinggian 1700 meter, tanjakan sudah mulai semakin tegak, yang memaksa kita untuk merangkak, selain itu banyak juga kita melalui pepohonan yang tumbang entah itu dikarenakan lapuk dimakan usia atau tertiup angin, sehingga menghalangi jalan. Sering kali tas yang kita gendong tersangkut di ranting-ranting pohon yang sangat rimbun. Semakin tinggi altitude, semakin banyak rintangan yang dilalui, jalan setapak semakin sempit bahkan tidak terlihat ada jalan.

Saat mencapai ketinggian 2000 meter hujan sudah mulai reda, namun banyak dari kita sudah basah kuyup dikarenakan keringat dan air hujan. Beberapa dari kita mengalami kedinginan yang ekstrem (hipotermia). Saat mengalami hipotermia ini, kita mengganti pakaian dengan yang kering dan berpelukan satu sama lain untuk menghangatkan tubuh. Sempat terpikirkan untuk nge’camp di area ini, namun niat itu kami urungkan dikarenakan tempatnya yang sangat terbatas dan tak ada tempat datar yang memungkinkan untuk mendirikan tenda.

Perjalanan kami lanjutkan, alangkah prustasinya kami melihat medan pendakian di depan, setelah tanjakan yang sangat ekstrem malah ada turunan lagi yang sangat lebat dikelilingi semak-semak berduri. Dengan harap-harap cemas kita lalui tanjakan dan turunan yang di sampingnya ada jurang yang sangat dalam, kalau terpeleset sedikit saja sudah pasti kita akan jatuh ke jurang tersebut.

Langkah kami terhenti saat melewati tempat datar, teman kami sampar-angin dan komang odon yang sudah duluan jalan terlihat berbaring di bawah terpal. Mereka tertidur di dalam sleeping bag, beratapkan terpal. Mereka terkena hipotermia, dan terpaksa harus berhenti disana. Ayah atau Bapak Kayat Sudin selaku ketua Kripala dan ketua pendakian memutuskan untuk yang sakit atau yang tidak kuat untuk tidur ditempat ini sementara. Akhirnya 6 orang dari kami termasuk saya memutuskan untuk tidur disini, dan yang lainnya melanjtkan pendakian ke puncak. Kalau dipaksakan, saya sendiri sebenarnya cukup kuat untuk melanjutkan pendakian, namun keponakan saya “Arika” meminta untuk beristirahat disini dulu.

Jarum jam menunjukkan di angka 22:00, saat kami terlelap tidur, hujan deras kembali turun. Kehawatiran saya pun kembali terjadi. Air hujan menembus terpal atau tenda yang kami dirikan, selain dari atas air juga mengalir di bawah punggung kami. Sleeping bag kamipun basah, sesekali saya berusaha untuk menghibur Arika (keponakan) agar kuat menghadapi ini, semalaman penuh kami terjaga, mau berbaring tidak bisa, mau tidur sambil dudukpun sungguh sulit. Dingin sungguh menusuk ke kulit, membuat gigi kami berdetak.

Pagi pun tiba, kami berenam memutuskan melanjutkan perjalanan ke puncak. Yang kami nggak ngerti, jalanan menuju puncak ini didominasi tanjakan dan turunan yang sangat ekstrem, di sisi kiri kanannya jurang yang sangat dalam, beberapa kali melewati jalur yang menurun, padahal menuju puncak seharusnya trek keatas, dikarenakan hujan, trek yang kami lalui sangatlah licin. Setelah berjalan 10 menit dari tempat berkemah semalam, kami pun melihat teman-teman yang lainnya sudah meneguk hangatnya kopi. Ternyata jarak tempat kami tidur semalam tidaklah jauh dengan puncak. “Bagusan semalam aja ya langsung muncak”, pikir saya dalam hati. But..rasa capek itu telah sirna, kita ber 23 komplit semua sudah sampe puncak dengan selamat.

Saya dan keponakan.

Ternyata banyak juga pendaki lainnya yang nge’camp di puncak, jika dihitung mungkin ada sekitar 10 tenda, termasuk tendanya kita. Kebanyakan dari mereka melalui jalur yang paling dekat yaitu dari arah barat lebih tepatnya dari Desa pujungan yang hanya perlu waktu 4 jam. Dan dari jalur pendakian yang kita lalui dari Jatiluwih kira-kira 7,5 jam sampai 8,5 jam. Bahkan ada grup pendaki lainnya dari Desa Jatiluwih yang naiknya bersamaan dengan kami, mereka baru sampai jam 10 malam atau 10,5 jam perjalanan.

Capek, dingin dan prustasi semuanya sirna ketika kami melihat pemandangan yang sungguh tiada duanya. Seluruh bali bahkan pulau-pulau sekitarnya bisa kami lihat dari pincak ini, sisi barat terlihat gunung raung (pulau jawa), di utara hamparan laut dan kota singaraja, ke arah timur sedikit ada danau tamblingan. Jauh di timur ada Gunung Agung, dan dibelakangnya samar-samar terlihat gunung rinjani (lombok). Agak keselatan sedikit diseberang lautan tampak pulau Nusa penida, dan dari arah selatan terlihat area Kakinya bali, Jimbaran, jalan tol Bali Mandara, bahkan Patung GWK pun kami bisa melihat dari sini.

Tampak gunung agung di sisi timur

Sebelum kami berbalik turun ke bawah, tidak lupa kami semua berkumpul dulu di utamaning mandala pura puncak kedaton untuk memanjatkan doa puji syukur kehadapan tuhan yang maha kuasa, karena beliau telah memberikan kami semua keselamatan sampai di puncak, dan semoga kedepannya kami diberikan kesuksesan apa yang kami cita-citakan.

Area kakinya Bali, Jimbaran, nusa dua dan jalan tol Bali Mandara

Jam 9 pagi, kami turun gunung lewat jalur yang sama saat kami naik sebelumnya, lewat jatiluwih. Kembali kami melewati semak-semak Yang begitu lebat yang cukup sulit dilewati, belum lagi medannya yang super licin.

Lama kelamaan robongan besar kami pun terpecah-pecah, dari yang awalnya saling beriringan ber 23, kini menjadi rombongan kecil-kecil. Yang kuat dan lincha mulai merangsek kedepan, dan yang agak lambatan mulai kebelakang. Keponakan saya “Arika” yang awalnya ada di barisan depan lambat laun akhirnya bersama saya dan 5 teman lainnya paling belakang. Saya sendiri terkendala dengan sandal yang putus di sisi kanan, mengharuskan diri untuk extra pelan-pelan untuk menuruni gunung yang begitu licin ini. Thanks to Om Ugik yang udah sangat sabar mem’Back-up keponakan saya agar kuat sampe dibawah, dan juga teman-teman yang lainnya yang begitu sabar bareng-bareng saling menyemangatkan sesama. kami berenam berada di barisan terbelang, komang, pakde klungkung, putu Deta, Arika, Om Ugik dan saya sendiri.

Perjalanan turun kami berenam sangatlah lambat, dikarenakan Arika masih sangat takut dengan jalanan yang licin, dia masih belum berani untuk melangkahkan kakinya dengan cepat. Beberapa kali saya dengan Om Ugik mengajarkan Arika teknik menghadapi trek yang licin, begitu juga dengan yang lainnya, terus memberikan semangat dan support agar dia kuat. Agar mental dia semakin kuat walaupun penuh dengan cobaan.

Dilain hal, sandal yang saya pakai sudah mulai tidak bersahabat, final decision akhirnya saya lakukan, akhirnya dengan sangat berat hati sandal itu saya pensiunkan, terpaksa harus bertelanjang kaki alias nyeker menghadapi trek yang begitu ekstrem ini. Beberapa kali teman-teman mengingatkan untuk hati-hati kalau tidak memakai sandal. Tapi tak apalah, lebih baik nyeker dibandingkan tidak nyaman dan dipersulit sandal yang sudah putus.

Jam menunjukkan pukul 12:30, hal yang kami kawatirkan pun terjadi. Hujan sudah mulai menetes, mempersulit kami saat melangkahkan kaki. Semakin lama semaki deras sajan hujan membasahi tubuh ini, karena semangat kami menuruni gunung, dingin tidaklah terasa. Karena saking derasnya hujan, trek yang kami lewati bukan lagi seperti jalan setapak, malah terlihat seperti sungai yang dipenuhi air yang berwarna coklat, beberapa kali kami terjatuh, tapi tidaklah membuat semangat ini gentar, kami tetap melanjutkan perjalanan walaupun basah kuyup.

Akhirnya kami berada di hutam pandan raksasa, berarti garis finish sudah sangat dekat di depan. Saya yang bertelanjang kaki ini beberapa kali ditusuk duri atau ranting yang terinjak, darah terlihat mengalir di kaki, namun tidak saya hiraukan, entah itu terkena duri, ranting atau mungkin digigit pacet, pokus diri agar sampe dibawah, luka atau gimanapun itu, sampai dirumah bisa diobati.

Akhirnya deretan pohon bambu yang besar terlihat, tandanya kami sudah mau sampe dibawah. Syukur, senang jadi satu, akhirnya kami berenam sampai dengan selamat, walaupun kami terlambat 2 jam dibandingkan teman-teman yang dibarisan terdepan.

Jadi segitu cerita kami saat mendaki Gunung Batukaru, disini kami bisa mengambil ikmah, sebesar apapun cobaan itu, asalkan dihadapi dengan tegar dan semangat, pasti berhasil. Kesabaran, saling menolong sesama dan saling support.

Sedikit saran dari kami pada teman-teman yang akan mendaki gunung batukaru ini, sebaiknya mendaki dari jalur pujungan, memang agak jauh dari arah Denpasar ataupun dari bali bagian selatan dan bali bagian timur. Namun treknya jauh lebih cepat dan medannya lebih bersahabat. Selain itu persiapkan segala kebutuhan, seperti jas hujan, pakaian pengganti yang lebih, makanan secukupnya. Ingat gunung ini tipe lembab dan sering hujan, persiapkan diri dan fisik.

Sekian dulu dan terimakasih sudah berkunjung ke blog ini.

4 thoughts on “Pendakian Gunung Batukaru lewat Jatiluwih, Medannya extra ganask

  1. Wah ternyata banyak juga ya gunung di Bali. Orang luar Bali taunya cuma Gunung Agung sama Batur. Duh, pingin banget sampe Bali explore gunung-gunungnya.
    Semoga suatu saat bisa kesampean.

    Gunung Batukaru nggak terlalu tinggi berarti ya Mas? Tapi viewnya sudah mantep, keliatan Gunung Agung juga.

    Liked by 1 person

    1. Tapi cuma gunung agung dan gunung batur yang sering di daki para turis, padahal banyak lagi gunung2 yg jarang di explore, gn. Abang, gn. Batukaru, dll.
      Gn. Batukaru cuma 2276m, tapi medannya lumayan, tergantung dari mana naiknya.
      View cuma di puncak yang toop bgt, dari bawah hutan melulu…

      Liked by 1 person

  2. Wah, makasih buat cerita serunya mas. Pengen juga kapan-kapan kalau ke Bali gak cuma mantai atau ngejar air terjun aja. Tapi juga sesekali camping dan naik gunung.

    Dicatat, kalau mau mencoba Gunung Batukaru ini sebaiknya dimulai dari Pujungan saja ya supaya lebih santai. O iya satu yang penting, apakah di puncak atau sekitar camp area nya ada sumber airnya?

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s